Mchsholehuddin Blog

Mei 10, 2009

TIADA PENGGANTI BAGI AYAT ALLAH

Filed under: Uncategorized — mchsholehuddin @ 7:16 am

ولا تشتروا بأياتي ثمنا قليلا وأياي فاتقون (البقرة:41).

Artinya: janganlah kamu jual ayat-ayat Ku dengan harga yang murah dan bertawakkallah hanya kepadaku. (Q.S. Al Baqarah, 41)

Ayat tersebut adalah ayat yang berbentuk larangan dari Allah swt kepada Bani Israil agar supaya mereka tidak menjual atau mengganti ayat-ayat Allah dengan yang lain dengan harga yang sedikit begitu pula dengan harga yang tinggi.

Adapun tafsiran dari ayat di atas ialah seperti yang disebutkan dalam tafsir Jalalain karangan Imam Jalaluddin Al Mahally, yaitu mengganti maksudnya yaitu menganti ayat Allah dengan yang lainnya. Dan sesungguhnya lafadz إشترى yang artinya menjual, yaitu menempati di tempatnya mengganti, seperti itu juga dengan harga juga menempati di tempatnya pengganti dari sesuatu. Perlu kita ketahui terlebih dahulu bahwa ayat tersebut khitob kepada Bani Israil, yang mana Allah melarang mereka untuk tidak menjual atau mengganti ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit atau rendah begitu pula dengan harga yang tinggi1.

Di dalam kitab tafsir Bahrul Madid dijelaskan bahwa maksud dari ayat di atas ialah mereka (Bani Israil) menggantikan imannya yang akan membawanya kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, dengan harta yang tidak bersifat sementara dan suatu saat akan punah, dan sesungguhnya itu adalah harga yng sangat sedikit yang akan menjadi siksa Allah, karena sesungguhnya manfa’at dan mudharat itu ada pada kekuasaan-Nya2. Kitab lain menerangkan yang man keterangannya sangat identi dengan ketengan di atas, yaitu lafadz إشترى itu adalah majaz dan adapun yang dimaksud adalah mengganti3.

Begitu pula dengan hadist yang dikeluarkan oleh Abu Syaikh dari Abi Al-Aliyah di dalam firman Allahولا تشتروا بأياتي ثمنا قليلا وأياي فاتقون (البقرة : 42) Bahwa Arosulullah bersabda “janganlah kamu mengambil upah dari apa (ayat) yang telah kamu ketahui, sesungguhnya pahala para Ulama’ dan para Hukama’ sudah ditanggung oleh Allah swt dan nanti mereka akan menemukan pahala tersebut di sisi Allah.  Hei anak cucu Adam memberitaulah kalian dengan cara mencicil sebagaimana yang kalian ketahui dengan mencicil pula”. Maka dari itu sebagian Ulama’ mengambil dalil dari ayat tersebut bahwa tidak diperbolehkan mengambil upah dari ta’limil kitab dan ta’limil ‘ilmi4.

Adapun tafsiran dari ayat ولاتلبسواالحق باالباطل وتكتمواالحق وأنتم تعلمون ialah mencampur adukkan yang hak (benar) dengan yang batil (bohong). Ibnu Abbas berkata, “atau mencampur agama Yahudi dan Nasrani dengan Agama Islam”. Begitu pula Imam Mujahid mengatakan, “atau mencampur kitab Taurat dengan apa yang mereka (Ahli Kitab) tulis dengan tangan mereka sendiri, atau dengan maqalah di kitab Taurat yang mereka ganti, yaitu penyebutan kerasulan Nabi Muhammad saw5.

Selain itu ada Hadist yang dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas tentang firman Allah  ولاتلبسواالحق باالباطل , Nabi bersabda, “janganlah kamu mencampur adukkan kebenaran dengan kebatilan. وتكتمواالحق , Nabi bersabda, “janganlah kamu menyimpan yang hak yang mana kalian mengetahui bahwa Muhammad adalah Utusan Allah6. Selain itu juga Hadist yang dikeluarkan oleh Abdun bin Humaid dan sy Qotadah didalam masalah firman Allah ولاتلبسواالحق باالباطل Nabi bersabda, “janganlah kamu mencampur adukkan agama Yahudi dan Nasrani dengan agam Islam yang mana kamu mengetahui bahwa agama Allah adalah agama Islam, dan agama Yahudi dan Nasrani adalah bid’ah yang bukan dari Allah. وتكتمواالحقmereka menyimpan Nabi Muhammad (sebagi Rasul) dan mereka mengetahui sesungguhnya Ia adalah Utusan Allah, karena mereka menemukannya di kitab mereka yaitu kitab Taurat dan Injil Ia menyuruh kepada kebaikan dan melarang kemungkarandan menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang buruk7.

Referensi

  1. Fakhrurrozi. Tafsir Fahkrurrozi. Hal 484/2. Perc: Daruihyaitturust Al Arabiy (Bairut Libanon) th 2001.
  2. Abu Abbas Ahmad Bin Muhammad Bin Mahdi Ibnu Ujaibah Al Hasaniy. “Bahrul Madid”. Hal 78/01, Darul Kutub Al Ilmiyah(Bairut Libanon) th 2005.
  3. Muhammad bin Yusuf As-Syahir Bi Abi Hayyan Al Andalusiy Al Gornathiy. “Bahrul Muhith”. Hal 288/01, Darul Fikr (Bairut Libanon) Th 2005.
  4. Sayyid Mahmud Al Ulusiy Al Bagdadiy. Ruhul Ma’aniy. Hal 276/1. Daruihyaitturust Al Arabiy(Bairut Libanon) th 1999.
  5. Jalaluddin As Suyuthiy. Addurrul mantsur. Hal 124/01. Daruihyaitturust Al Arabiy(Bairut Libanon) Th 2001.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: