Mchsholehuddin Blog

Mei 31, 2009

Kafir Berhati Keras

Filed under: Uncategorized — mchsholehuddin @ 6:35 am

 

ثم قست قلوبكم من بعد ذلك فهي كا لحجارة أو أشد قسوة, وإن من الحجارة لما يتفجر منه وإن منها الأنهار لما يتشقق فيخرج منه الماء, وإن منها لما يهبط من خشية الله, وما الله بغافل عما تعملون (74)

 

            Artinya: kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, Sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras , Padahal bat- batu itu  pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar dari padanya, Dan ada pula  yang meluncur jatuh karena takut pada Allah, Dan  Allah tidaklah lengah tehadap apa yang kamu kerjakan.(74).

            Ayat di atas  menerangkan betapa kerasnya seorang kafir sampai-sampai oleh Allah diumpamakan seperti batu, bahkan lebih keras darinya.

            Dan ayat tersebut boleh dikhitobkan kepada ahli kitab yang hidup di zaman Nabi Muhammad SAW hati mereka menjadi keras setelah adanya peringatan dari Allah SWT kepada kaum sebelum mereka da setelah datangnya perkara yang berjalan atas mereka (untuk mereka)[1] dan ayat di atas juga boleh dikhitobkan kepada orang yahudi yang hidup di zaman Nabi Musa secara tertentu. Dan juga boleh dikhitobkan kepada kaum sebelum mereka[2].

            Adapun makna dari lafadz فهي كا لحجارة أو أشد قسوة ialah seperti yang saya singgung di atas, hati mereka menjadi keras seperti batu atau lebih keras dari padanya, atau sama seperti batu, atau juga lebih keras dari sesuatu yang semisal dengan batu seperti besi. Dan adapun tafsiran lafadz sesudahnya adalah menerangkan kerasnya hati meraka sampai-sampai di hati mereka tidak ada bekas bekas adanya kebaikan sedikitpun, kalau batu masih kadang-kadang masih bisa mengeluarkan mata air yang besar[3] sedangkan hati mereka sedikit tidak ada kebaikan sama sekali.

            Dikitab lain dijelaskan, menurut Ibnu Abbas, ayat tersebut khitob kepada ahli waris orang yang terbunuh setelah Allah menghidupkan orang yang mati tersebut, seperti yang telah disebutkan di ayat sebelumnya. Dan kalau menurut Abil-Aliyah dan Ulama’-Ulama’ yang lainnya, ayat tersebut khitob kepada Bani Israil[4].

            Selain keterangan-keterangan di atas ada Hadist yang dikeluarkan oleh Ibnu Ishaq, Ibnu Jarir dan Ibnu Hatim dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah lafadz (وإن من الحجارة لما يتفجر منه وإن منها الأنهار) yaitu, sesungguhnya batu lebih lembut dari pada padamu (orang kafir) terhadap sesuatu yang hak. Dan juga dari Abdun bin Humaid, Ibnu Mundzir dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas mengenai lafadz (وإن منها لما يهبط من خشية الله) Nabi Muhammad SAW bersabda; Sesungguhnya batu hidup di bumi, dan jikalau ada dari sekelompok manusia mengumpulkannya (jadi satu) dia tidak takut pada mereka, karena mereka hanya takut kepada Allah[5].

            Di kitab lain diterangkan bahwa ayat tersebut khitob kepada orang yahudi, hati mereka keras bagaikan batu, hati mereka hanya bisa basah namun hati mereka tidak bisa lembut, dan tidak khusu’. Tidak seperti batu sebagian dari batu ada yang turun dari atas gunung karena takut kepada Allah SWT[6].

 

 


[1] Fakhrurroziy “Tafsir Al-Fakrurroziy” Hal 555/03. Perc: Daru Ihyaitturots Al-Araby (Bairut Libanon) Th 2001

[2] Ibid Hal 555.

[3] Abissu’ud Tafsir al ‘Allamah Abissu’ud. Hal 139/01 Perc: Darul Fikr (Bairut Libanon) tanpa tahun.

[4] Sayyid Mahmud Al Ulusiy Al Bagdadiy. Ruhul Ma’aniy. Hal 4000-401/1. Daruihyaitturust Al Arabiy(Bairut Libanon) th 1999.

[5] Jalaluddin As Suyuthiy. Addurrul mantsur. Hal 180/01. Daruihyaitturust Al Arabiy(Bairut Libanon) Th 2001.

6 Abu Abbas Ahmad Bin Muhammad Bin Mahdi Ibnu Ujaibah Al Hasaniy. “Bahrul Madid”. Hal 78/01, Darul Kutub Al Ilmiyah(Bairut Libanon) th 2005.

Mei 17, 2009

Perintah Allah Untuk Bani Israil

Filed under: Uncategorized — mchsholehuddin @ 6:29 am

وإذقلنا ادخلواهذه القرية فكلوا منها حيث شئتم رغدا وادخلوا الباب سجدا وقولواحطة نغفرلكم خطاياكم وسنزيدالمحسنين (البقرة : 58)

Artinya:  Dan (ingatlah), ketika kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri Ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak dimana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan Katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa”, niscaya kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan kelak kami akan menambah (pemberian kami) kepada orang-orang yang berbuat baik”. (Al Baqarah: 58)

فبدل الذين ظلموا قولا غيرالذي قيل لهم فأنزلنا الذين ظلموا رجزا من السماء بما كانوا يفسقون. (البقرة : 59)

“Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. sebab itu kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu dari langit, Karena mereka berbuat fasik”.(Al Baqarah:59).

Ayat di atas adalah suatu perintah yang diberatkan dan ada dua wajah yang menujukkan pada ayat tersebut. Yang pertama Allah menyuruh untuk memasuki pintu dengan dengan keadaan sujud. Dan adapun itu adalah pekerjaan yang berat maka perintrah untuk memasuki pintu gerbang tersebut adalah memberi beban dan memasuki pintu dengan cara sujud adalah sesuatu yang disyaratkan untuk masuk kesebuah negeri, karena sesuatu yang diperbolehkan yang mana dengan meninggalkan sesuatu tersebut pekerjaan wajib tidak bisa sempurna, maka hal itu dihukumi wajib. Artinya yang dulunya dihukumi jawaz ketika dalam keadaan seperti ini dihukumi wajib, jadi mau tidak mau hal itu harus dilakukan. Maka dari itu perintah untuk memasuki sebuah negeri adalah perintah yang diberatkan (diwajibkan) bukan pekerjaan ibahah (biperbolehkan). Yang kedua, firman Allah dalam Al Qur’an surat Al Maidah ayat 211, adalah dalil yang menunjukkan keterangan telah disebut diatas2.

Adapun didalam lafadz القرية para Ulama’ berbeda pendapat ada yang mengatakan yang dimaksud dengan lafadz tersebut adalah Baitul Maqdis dan juga ada yang mengatakan Ariha’ atas dasar Hadist yang telah diceritakan bahwa mereka masuk pada Ariha’ di waktu zaman Nabi Musa, atau pintu Qubah, yaitu tempat di mana mereka sholat, maka sesungguhnya mereka tidak masuk pada Baitul Maqdis semasa hidup Nabi Musa as. Mengenai lafadz سجدا ialah sujud kepada Allah karena mereka dapat keluar dari padang sahara3. keterangan ini berbeda dengan keterangan yang ada dalam kitab Bahrul Madid di situ dijelaskan yang dimaksud dengan lafadz tersebut ialah Ruku’ untuk merendahkan diri kepada Allah dan bersyukur pada-Nya4.

Adapun tafsiran ayat yang kedua, yaitu Bani Israil mengganti atau melakukan hal yang tidak diperintah oleh Allah sedangkan yang diperintah tidak mereka lakukan oleh karena itu Allah menurunkan adzab yang berupa tha’un (penyakit menular) maka dalam tempo satu hari penyakit tesebut dapat menghabisi tujuh puluh ribu jiwa, hal ini desebabkan kefasikan sendiri dan disebabkan mereka telah melampaui batas5.

Semua keterangan memberi faidah kepada kita untuk tidak melakukan hal yang tidak diperintah oleh Allah dengan menjauhi hal yang diperintah oleh-Nya, kalau hal itu terjadi dan sampai datang adzab Allah, jangan salahkan Allah salahkahlah kita sendiri tentunya konsekwensi dari semuanya harus kita tanggung sendiri.

Referensi

1. أدخلوا الأرض المقدسة التي كتب الله عليكم ولاترتد على أدباركم

“Hai kaumku, masuklah ke tanah Suci (Palestina) yang Telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang”.

2. Fakhrurrazy Tafsir Fakhrurrazy. Hal 522/03. Perc: Daruihyaitturats Al ‘Araby (Bairut Libanon) Th 2001.

3. Abissu’ud Tafsir al ‘Allamah Abissu’ud. Hal 127/01 Perc: Darul Fikr (Bairut Libanon) tanpa tahun.

4. Abu Abbas Ahmad bin Muhammad bin Mahdi Ibnu Ujaibah Al Hasany. Bahrul Madid. Hal 89/01. Perc: Darul Kutub (Bairut Libanon) Th 2005.

5. Ibid Hal. 89.

Mei 10, 2009

TIADA PENGGANTI BAGI AYAT ALLAH

Filed under: Uncategorized — mchsholehuddin @ 7:16 am

ولا تشتروا بأياتي ثمنا قليلا وأياي فاتقون (البقرة:41).

Artinya: janganlah kamu jual ayat-ayat Ku dengan harga yang murah dan bertawakkallah hanya kepadaku. (Q.S. Al Baqarah, 41)

Ayat tersebut adalah ayat yang berbentuk larangan dari Allah swt kepada Bani Israil agar supaya mereka tidak menjual atau mengganti ayat-ayat Allah dengan yang lain dengan harga yang sedikit begitu pula dengan harga yang tinggi.

Adapun tafsiran dari ayat di atas ialah seperti yang disebutkan dalam tafsir Jalalain karangan Imam Jalaluddin Al Mahally, yaitu mengganti maksudnya yaitu menganti ayat Allah dengan yang lainnya. Dan sesungguhnya lafadz إشترى yang artinya menjual, yaitu menempati di tempatnya mengganti, seperti itu juga dengan harga juga menempati di tempatnya pengganti dari sesuatu. Perlu kita ketahui terlebih dahulu bahwa ayat tersebut khitob kepada Bani Israil, yang mana Allah melarang mereka untuk tidak menjual atau mengganti ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit atau rendah begitu pula dengan harga yang tinggi1.

Di dalam kitab tafsir Bahrul Madid dijelaskan bahwa maksud dari ayat di atas ialah mereka (Bani Israil) menggantikan imannya yang akan membawanya kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, dengan harta yang tidak bersifat sementara dan suatu saat akan punah, dan sesungguhnya itu adalah harga yng sangat sedikit yang akan menjadi siksa Allah, karena sesungguhnya manfa’at dan mudharat itu ada pada kekuasaan-Nya2. Kitab lain menerangkan yang man keterangannya sangat identi dengan ketengan di atas, yaitu lafadz إشترى itu adalah majaz dan adapun yang dimaksud adalah mengganti3.

Begitu pula dengan hadist yang dikeluarkan oleh Abu Syaikh dari Abi Al-Aliyah di dalam firman Allahولا تشتروا بأياتي ثمنا قليلا وأياي فاتقون (البقرة : 42) Bahwa Arosulullah bersabda “janganlah kamu mengambil upah dari apa (ayat) yang telah kamu ketahui, sesungguhnya pahala para Ulama’ dan para Hukama’ sudah ditanggung oleh Allah swt dan nanti mereka akan menemukan pahala tersebut di sisi Allah.  Hei anak cucu Adam memberitaulah kalian dengan cara mencicil sebagaimana yang kalian ketahui dengan mencicil pula”. Maka dari itu sebagian Ulama’ mengambil dalil dari ayat tersebut bahwa tidak diperbolehkan mengambil upah dari ta’limil kitab dan ta’limil ‘ilmi4.

Adapun tafsiran dari ayat ولاتلبسواالحق باالباطل وتكتمواالحق وأنتم تعلمون ialah mencampur adukkan yang hak (benar) dengan yang batil (bohong). Ibnu Abbas berkata, “atau mencampur agama Yahudi dan Nasrani dengan Agama Islam”. Begitu pula Imam Mujahid mengatakan, “atau mencampur kitab Taurat dengan apa yang mereka (Ahli Kitab) tulis dengan tangan mereka sendiri, atau dengan maqalah di kitab Taurat yang mereka ganti, yaitu penyebutan kerasulan Nabi Muhammad saw5.

Selain itu ada Hadist yang dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas tentang firman Allah  ولاتلبسواالحق باالباطل , Nabi bersabda, “janganlah kamu mencampur adukkan kebenaran dengan kebatilan. وتكتمواالحق , Nabi bersabda, “janganlah kamu menyimpan yang hak yang mana kalian mengetahui bahwa Muhammad adalah Utusan Allah6. Selain itu juga Hadist yang dikeluarkan oleh Abdun bin Humaid dan sy Qotadah didalam masalah firman Allah ولاتلبسواالحق باالباطل Nabi bersabda, “janganlah kamu mencampur adukkan agama Yahudi dan Nasrani dengan agam Islam yang mana kamu mengetahui bahwa agama Allah adalah agama Islam, dan agama Yahudi dan Nasrani adalah bid’ah yang bukan dari Allah. وتكتمواالحقmereka menyimpan Nabi Muhammad (sebagi Rasul) dan mereka mengetahui sesungguhnya Ia adalah Utusan Allah, karena mereka menemukannya di kitab mereka yaitu kitab Taurat dan Injil Ia menyuruh kepada kebaikan dan melarang kemungkarandan menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang buruk7.

Referensi

  1. Fakhrurrozi. Tafsir Fahkrurrozi. Hal 484/2. Perc: Daruihyaitturust Al Arabiy (Bairut Libanon) th 2001.
  2. Abu Abbas Ahmad Bin Muhammad Bin Mahdi Ibnu Ujaibah Al Hasaniy. “Bahrul Madid”. Hal 78/01, Darul Kutub Al Ilmiyah(Bairut Libanon) th 2005.
  3. Muhammad bin Yusuf As-Syahir Bi Abi Hayyan Al Andalusiy Al Gornathiy. “Bahrul Muhith”. Hal 288/01, Darul Fikr (Bairut Libanon) Th 2005.
  4. Sayyid Mahmud Al Ulusiy Al Bagdadiy. Ruhul Ma’aniy. Hal 276/1. Daruihyaitturust Al Arabiy(Bairut Libanon) th 1999.
  5. Jalaluddin As Suyuthiy. Addurrul mantsur. Hal 124/01. Daruihyaitturust Al Arabiy(Bairut Libanon) Th 2001.

Revolusi Zaman

Filed under: Uncategorized — mchsholehuddin @ 6:06 am

Di era modern seperti sekarang ini banyak pemuda atau pemudi yang terbawa arus oleh zaman, zaman yang serba populer, serba modern, serba nge-trend namun begitu mayoritas remaja tidak mengerti akan arti dari semua ini, sang remaja kurang begitu kritis dan analisis terhadap pergantian zaman, ia hanya bisa bersenang-senang dengan semua dia anggap semua ini adalah surga yang harus ia nikmati dengan tanpa mempertimbangkan dengan fikiran yang ilmiah.
Telah banyak remaja-remaja yang sebagian dari teman-teman kita yang belum mengenyam pendidikan agama secara efektif, khususnya remaja yang tengah memasuki pasca pubertas, tenggalam dalam jurang kehancuran tentunya dikarenakan terlalu asyik menikmati pergantian zaman yang serba modern ini, ia hanya mengandalkan fisik tanpa disertai fikiran yang matang, ia lalai untuk mempertimbangkan semua ini, sehingga ia terbawa arus kehidupan yang jauh dari keharmonisan.
Ironisnya mayoritas remaja pada saat ini yang ikut trend tanpa mengetahui arti trend itu sendiri. Mereka didalam mengartikan trend sangatlah gampang dan tentunya trend itu akan ia samakan dengan dirinya yang serba gaul, mereka menganggap trend itu adalah sebuah realita yang bernuansa Punk, tentunya bagi yang laki-laki dengan rambut di-cat, pake’ anting, mondar-mandir di jalanan sambil pegang gitar, tidak kalah lagi dengan yang perempuan dengan gaya celana mini yang hanya menutupi sebagian kemaluannya, kemudian pake’ kaos yang serba ketat sehinga bentuk tubuhnya terlihat jelas dimata para penganut Punk yang lain, sehingga mereka mengklaim dirinya sebagai orang ter-gaul dibandingkan yang lain, tentunya orang yang tidak sama dengan mereka. Nah, anggapan seperti ini di kacamata islam adalah kesalahan yang sangat besar yang harus diperbaiki.
Kita sering mendengar kata-kata Punk seperti yang saya singgung di atas, namun apakah kita mengerti apa arti Punk tersebut?. Disini saya akan mencoba untuk menjelas apa arti Punk tersebut. Dulunya saya juga tidak mengerti apa sih arti Punk itu, penasaran membawa saya untuk mencari apa arti Punk itu, kemudian saya cari di kamus bahasa inggris yang sudah tersedia komputer, betapa terkejutnya saya setelah ketahui arti Punk itu, ternyata arti Punk itu adalah “pemuda yang tidak berpendidikan atau pemuda yang bodoh”, jadi mayoritas pemuda yang menganut gaya Punk adalah pemuda yang kurang berpendidikan, namun mengapa arti buruk dari Punk itu tidak membawa para remaja untuk insaf dari kebiasaanya menjadi anak Punk. Ada dua faktor yang menyebabkan mereka tidak berhenti dari kebiasaannya. Pertama, dikarenakan mereka tidak mengetahui artinya. kemudian yang kedua. Kemungkinan besar mereka mengetahui namun karena seduh menjadi kebiasaan dan sudah mendarah daging, mereka kesulitan untuk melepasnya.
Konsekwensinya otomatis akan kembali kepada mereka sendiri, mengapa mereka melakukan hal yang seperti itu. Yang sangat disayangkan lagi bagi kaum perempuan, ia dengan mudah mengumbar auratnya kesana-kemari, tanpa memikirkan akibatnya, dengan kebiasaan seperti banyak terjadi kasus pemerkosaan dimana-mana, kasus seperti ini yang sering terjadi adalah di kalanagan ana-anak sekolah yang salah pergaulan. Faktor lain yang menyebabkan adanya kasus seperti itu adalah tersebarnya film-film BF (blue film) atau gambar-gambar porno yang telah tersebar luas baik itu dari VCD atau dari HANDPHONE yang mempunyai kapasitas video, dari inilah banyak pemuda-pemudi yang teledor hingga sampai melakukan hal-hal yang mesum.
Ironisnya lagi di sebagian sekolah ada yang sebagian muridnya ketika berangkat sekolah tidak membawa alat tulis atau lainnya yang diperlukan disekolah, melainkan yang ia bawa adalah baju yang ia taruh di dalam tasnya lengkap dengan Make-Up-nya, lebih dari itu sebagian dari mereka tidak datang kesekolahan melainkan jalan-jalan dengan orang yang haram baginya, mengapa mereka melakukan hal yang demikian? Faktor utamanya adalah salah pergaulan, salah pergaulan yang negatif adalah sangat ber-efek negatif pula bagi kehidupan mereka.
Bagi para kaum wanita hal seperti ini sangat disayangkan karena akan merusak masa depannya, masa depannya akan rusak karena ia menganut pergaulan bebas (Free Association) yang tanpa memakai hijab untuk keselamatan dirinya. Bahkan sebagian orang yang mengatakan hijab merupakan keterbelakangan bagi manusia, hijab tidak menunjukkan budaya yang maju, hijab hanyalah sebuah fenomena yang akan mengembalikan manusia kepada kehidupan primitif1.
Argumen di atas sangat salah salah besar, karena hanya memikirkan kemajuan budaya tidak memikirkan bagaimana nasib masa depan seseorang yang mulai terjerumus pada jalan yang jauh dari keimanan, dan otomatis akan terjerumus dalam jurang jahiliyah.
Islam sangat menekankan pada pengembangan inner beauty atau kecantikan prilaku karena memang pada kecantikan prilaku itulah tergantung masa depan dan baik buruknya seorang muslimah baik sebagi pribadi, sebagi ibu, sebagian masyarakat islam dan, yang tak kalah penting, sebagian dari masyarakat dunia2.
Islam tidak lagi kita anggap sebagi pemandu kehidupan (way of life) prilaku keseharian kita. Islam hanya kita pakai ketika kata ini akan menguntungkan kita secara materi. Kita mungkin masih melakukan shalat, naik haji, menghadiri acara pengajian, dan lain-lain; namun inti dari ajaran islam yang harus menjadi bagian urat nadi kita, seperti kejujuran, amanah, kerja keras, bersifat toleran, dan lain-lain sama sekali kita lupakan3.
Hal seperti ini sangat lumrah di pedasaan sampai ke gang-gang sempit di perkotaan, kebiasaan seperti ini sangat berefek negatif bagi masa depan anak bangsa. Sebagai manusia sosial kita harus ikut prihatin dengan kenyataan ini, lebih dari itu kita juga harus berusaha untuk mengubah kebiasaan seperti dengan hal-hal yang positif.

Referensi

1. Abdul Hamid Al-Bilaly (Februari 1990), “Apa Yang Menghalangimu Untuk Berhijab”, Hal 68, Jakarta-Yayasan Al-Sofwa,.
2. K.H Ahmad Fatih Syuhud (Maret 2009), “Wanita Shalihah Wanita Modern”,Hal 52, Pustaka Al Khoirot, Karangsuko Pagelaran Malang.
3. Hj. Lutfiyah Syuhud (Februari 2008), ”Santri, Pesantren Dan Tantangan Pendidikan Islam”, Hal 97, Pustaka Al-Khoirot, Karangsuko Pagelaran Malang.

April 19, 2009

Turunnya Nabi Adam Dari Surga

Filed under: Uncategorized — mchsholehuddin @ 6:27 am

فأزلـهما الشــيطان عنها فأخـرج هما مما كان فيه وقلنا إهبطوا بعـضكم لبعـض عــدو ولكم في الأرض مستقر ومتاع الى حين (البقره:36)
“Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu, dan dikeluarkan dari keadaan semula, dan kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” (QS Al Baqarah, 36).
Tafsiran lafadz di atas ialah yang dimaksud الشــيطان ialah Iblis, maksudnya Iblis menyesatkan dan menggelincirkan Nabi Adam dan Siti Hawa dari surga, adapun maknanya ialah bermakna menjauhkan kedua-Nya dari surga. Dan kejadian ini terjadi setelah Iblis diusir dari surga lantaran enggan bersujud kepada Nabi Adam ketika diperintah oleh Allah. Dan perintah sujud itu terjadi sebelum Nabi Adam belum masuk ke Surga dan ketika Iblis Alla’iin enggan bersujud kepada-Nya maka Allah mengusirnya dari surga, dan menyuruh Nabi Adam dan Ibu Hawa untuk masuk ke surga dan menetap di dalamnya.
Di tafsir lain disebutkan tafsiran ayat tersebut ialah tergelincir, seperti halnya orang yang mana kakinya berpacu pada suatu tempat, kemudian ia tergelincir dari tempat tersebut, maka ia akan berpaling dari tempat tersebut
Selain tafsir-tafsir di atas ada yang mengatakan bahwa tafsiran Ayat di atas juga menafsirkan dengan kata tergelincir, dan adapun maknanya ialah Iblis menjadikan Nabi Adam dan Siti Hawa tergelincir atau tersesat dari surga dengan tipudayanya dan Iblis berhasil di dalam menipu keduanya.
Di dalam tafsir Bahrul Muhith dijelaskan yang dimaksud lafadz فأزلـهماIblis menjadikan kedua-Nya tergelincir dari surga disebabkan memakan buah-buahan yang telah dilarang oleh Allah. Adapun makna dari lafadz مما كان فيه ialah kebahagiaan hidup dan kesenangan, namun Allah kemudian mengeluarkan keduanya ke bumi untuk merasakan susah payah, dan untuk sebagai Kholifah di bumi.
Demikianlah sifat Iblis Alla’iin selalu dihiasi dengan perasaan dengki. Karena demikian besar nikmat Allah yang diberikan kepada Adam dan Hawa dalam Surga, maka timbullah rasa dengki dan iri hati Iblis, kemudian ia berusaha dengan segala daya dan bagaimana caranya agar nikmat yang ada pada Adam dan Istrinya itu hilang. Maka dari itu Adam dan Hawa mulai dibujuk dengan kata-kata yang halus dan manis agar mau memakan buah Khuldi yang dilarang Allah, Akhirnya keduanya tertipu, sehingga berani makan buah yang dilarang itu. Dan sebagai hukumannya kedua-Nya diturunkan ke dunia.
Demikian pula dengan orang yang beriman hanya dengan hatinya tapi tidak disertai dengan amalan anggota badan, ini adalah keadaan Iblis, dia percaya pada kekuasaan Allah, Dzat yang menghidupkan dan mematikan. Dia meminta penangguhan kematiannya, dia juga percaya terhadap adanya Hari Kiamat, tetapi dia tidak beramal dengan tubuhnya. sebagai contoh ia enggan sujud ketika Allah menyuruhnya untuk sujud kepada Nabi Adam. Seperti Firman Allah di dalam surat Al Baqarah:34.

Referensi

1.    Sulaiman bin Umar Al-Ujaily As-Syafi’i As-Shyahir Biljamal. “Futuhatul Ilahiyah”. Hal 43/01. Perc:   Daruihyaitturast Al Arabiy (Bairut Libanon).
2.    Fakhrurrozi. Tafsir Fahkrurrozi. Hal 455/2. Perc: Daruihyaitturust Al Arabiy (Bairut Libanon) th 2001.
3.    Muhammad bin Yusuf As-Syahir Bi Abi Hayyan Al Andalusiy Al Gornathiy. “Bahrul Muhith”. Hal 259/01, Darul Fikr (Bairut Libanon) Th 2005.
4.    Muhammad bin Yusuf As-Syahir Bi Abi Hayyan Al Andalusiy Al Gornathiy. “Bahrul Muhith”. Hal 259/01, Darul Fikr (Bairut Libanon) Th 2005.
5.    LP3EM= Lembaga Penunjang Pembangunan Pendidikan dan Ekonomi Masyarakat. “Sejarah Islam”. Hal 2. Perc: Sinar Wijaya. Th 1992.
6.    Abdul Hamid Al-Bilaly. “Apa Yang Menghalangimu Untuk Berhijab”. Hal 28. Yayasan Al Sofwa Jakarta. Th 1996.
7.    أَ بَى وَاسْتَكْبَرَوَكَانَ مِنَ الْكَافِرِيْنَ. البقرة:34
Artinya : “Ia (Iblis) enggan dan takabbur dan adalah dia termasuk golongan orang-orang kafir”. (Al Baqarah :34).

April 12, 2009

Makluk Pertama Di Bumi

Filed under: Uncategorized — mchsholehuddin @ 6:33 am

وإذقال ربك للملائكة إني جاعل فى الأرض خليفة قالوا أتجعل فيها من يفسد فيها ويسفك الدمأ ونحن نسبح بحمدك ونقدس لك قال إني أعلم مالاتعلمون. (البقرة-30)

Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah dumi.” Mereka berkata, “apakah engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan mensucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Ketehuilah! Sesungguhnya ayat di atas adalah ayat yang diturunkan oleh Allah swt sebagai proses dijadikannya Nabi Adam dan bagaimana Allah memuliakan kepada-Nya, dan ini adalah sebuah kenikmatan yang menyeluruh bagi semua anak cucu Nabi Adam1.
Para Ulama’ di dalam menafsiri ayat tersebut berbeda-beda pendapat, kemudian Imam Dhohhak menceritakan sebuah Hadist dari Ibnu Abbas, sesungguhnya yang dimaksud feman Allah tersebut adalah para Malaikat yang berperang bersama dengan Iblis (melawan para jin), karena sesungguhnya ketika Allah menempatkan para jin di bumi, dia membuat kerusakan di bumi dan sering meneteskan darah dan saling membunuh satu sama lain, maka dari itu Allah mengutus para Iblis sebagi andil tentara Para Malaikat, kemudian Para Malaikat membunuh para Jin dengan tentara-Nya sampai Para Malaikat berhasil mengeluarkan Jin dari bumi dan Para Malaikat membuang jin tersebut ke pinggiran laut2.
Kemudian siapakah yang dimaksud Khalifah di dalam firman Allah tersebut? Didalam masalah ini ada Qoul (pendapat):
1. Nabi Adam
2. Anak dari Nabi Adam sendiri,
Adapun yang dimaksud dengan lafadz أتجعل فبها من يفسد فيها di sebutkan dalam kitab Tafsir Fakhrurroziy, ialah anak cucu Nabi Adam (seperti kita ini)3.
Adapun makhluk pertama yang singgah dibumi ialah Banull-Jaan ialah bapaknya Para Jin seperti halnya Nabi Adam sebagai bapaknya sekalian manusia. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata Abun (bapak) ialah para Iblis, dan ada yang mengatakan makhluk lain (Banull-Jaan). Adapun Iblis adalah bapaknya para Syetan4.
Mengambil pemahaman dari semua keterangan dari beberapa kitab yang telah saya terjemah di atas, bahwa firman Allah tersebut khitob ( tertuju) kepada semua Para Malaikat tanpa terkecuali, karena kalau kita analisa lebih dalam kata Al malaikah adalah memberi faidah umum bukan memberi faidah takhsis, meskipun kalau kita lihat dari segi lafadz, lafadz Al malaikah adalah berbentuk mufrad bukan jama’,
Mengenai makhluk pertama yang bertempat tinggal di bumi ialah para Jin yang kemudia dibunuh oleh Para Malaikat karena para Jin berbuat kerusakan di bumi dan saling bunuh-membunuh satu dengan yang lain. Dan adapun Iblis ikut berperang melawan Jin sebagi tentara dari Para Malaikat yang kemudian berhasil menyingkirkan Jin dari muka bumi.

Referensi

1. Fakhrurrozi. Tafsir Fahkrurrozi. Hal 383/2. Perc: Daruihyaitturust Al Arabiy (Bairut Libanon) th 2001.
2. Fakhrurrozi. Tafsir Fahkrurrozi. Hal 388/2. Perc: Daruihyaitturust Al Arabiy (Bairut Libanon) th 2001.
3. Fakhrurrozi. Tafsir Fahkrurrozi. Hal 388-389/2. Perc: Daruihyaitturust Al Arabiy (Bairut Libanon) th 2001.
4. Sulaiman bin umar al-ujaily as-syafi’I as-shyahir biljamal. Futuhatul ilahiyah. Hal 39/01. Perc: Daruihyaitturast Al Arabiy (Bairut Libanon).

April 5, 2009

Kepribadian yang Optimisme

Filed under: Uncategorized — mchsholehuddin @ 7:08 am

Kepribadian yang optimisme ialah sifat standart yang sangat penting dan harus dimiliki oleh setiap orang khususnya bagi para pelejar, baik itu santri maupun non santri, karena sifat tersebut akan membawa kepada kesuksesan yang alami.

Namun, terlebih dahulu mari kita membahas apa yang dimaksud optimisme tersebut. Perlu kita pertanyakan, apakah yang dimaksud dengan kata optimisme tersebut..? kalau menurut saya optimisme ialah yakin akan keberhasilan, semua orang yang memiliki kepribadian yang optimisme maka ia akan memperoleh apa yang ia cita-citakan dengan baik dan gampang, Karena dihatinya selalu terucap kata-kata keberhasilan, kalau dihatinya selalu ada kata-kata keberhasilan maka dia tidak akan takut melakukan segala hal yang ia kehendaki dan otomatis ia akan menemukan sebuah kesuksesan yang memuaskan, hanya dengan berbekal kepribadian yang optimisme.

Pernah kita mendengar dan juga kita pelajari sebuah Hadist Nabi yang menerangkan perlunya keoptimisan dalam berdo,a kepada Allah, yang artinya ialah:

Berdoalah kamu semua kepada Allah, dan yakinlah bahwa Allah akan mengabulkannya, dan ketahuilah sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan do’a yang keluar dari hati yang yang lupa dan lalai.

Maksud dari hadist di atas ialah didalam memanjatkan do’a kepada Allah swt kita diharuskan mempunyai keyakinan, harus ada keoptimisan dalam diri kita, agar do’a yang kita panjatkan dapat dikabulkan oleh Allah, Karena seperti pada Hadist tadi bahwa Allah tidak akan mengabulkan do’a yang keluar dari hati yang lalai. Jadi dari sini dapat kita ambil pemahaman bahwasannya keoptimisan sangat diperlukan.

Adapun lawan kata dari optimis ialah pesimis yang artinya adalah kurang yakin atau bisa di artikan dengan pendek harapan, maksudnya ialah didalam melakukan sesuatu yang selalu mempunyai keyakinan bahwa yang dilakukan tidak akan berhasil mulus, nah hal ini sangat sulit dihilangkan dalam benak kita, dan setiap orang pasti akan mempunyai sifat ini termasuk juga penulis, namun dengan sekuat tenaga saya akan coba menghilangkan sifat ini karena sifat seperti sangat tidak baik apabila dimiliki oleh setiap manusia apalagi seorang santri,

Contoh yang sangat nampak ialah apabila kita sedang mengikuti sebuah kompetisi yang mana lawan yang akan kita hadapi mempunyai kapasitas yang mendukung dan mempunyai potensi yang sangat menonjol dibandingkan kita. Disini akan nampak sebuah perasaan tidak mampu melawan atau mengalahkan lawan kita tersebut, dan otomatis dalam kompetisi tersebut kita akan mengalami kekalahan. itulah yang dimaksud dengan sifat pesimis selalu merasa kurang mampu di dalam melakukan segala hal dan sifat ini harus kita buang jauh-jauh dari diri kita.

Penutup

Setiap orang pasti mendambakan keberhasilan, namun kadang-kadang setelah melakukan segala hal dengan penuh harapan ternyata kenyataannya nihil keberhasilan tersebut tidak bisa didapatkan, hal seperti memang sangat biasa dan selalu datang menghantui seseorang. Tapi meskipun begitu kita harus mempunyai fikiran positif dan selalu sadar coba kita introspeksi diri kita mungkin kita belum menanamkan sifat optimis pada diri kita. Jangan mempunyai fikiran nagatif kepada siapapun apa lagi kepada Allah, selalu berdo’alah kepada-Nya dengan penuh keyakinan dan hati yang bersih pasti suatu saat nanti keberhasilan dapat kita peroleh dengan baik.

Tiada yang lebih dari pada mengenal arti kehidupan yang sesungguhnya jadikanlah kegagalan hari ini sebagai pintu kebersilan pada hari esok, karena kegagalan bukanlah suatu kekalahan, tapi ia adalah kemenangan yang tertunda.

Maret 1, 2009

ISTRI AHLI SORGA

Filed under: Uncategorized — mchsholehuddin @ 6:50 am

اوَلَهُمْ فِيْهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ. (البقرة-25

Dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang Suci dan mereka kekal di dalamnya.(QS. Al-Baqarah 25)

Kenikmatan di Syurga itu adalah kenikmatan yang serba lengkap, baik jasmani maupun rohani, apa yang tidak pernah peroleh disana pasti akan kita peroleh, apa yang belum sentuh disana akan kita genggam, dengan syarat kita harus memperbaiki akhlak kita dan menjalani apa yang Allah perintah dan menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya.
Adapun makna dari firman Allah أزواج مطهرة disebutkan dalam Kitab Tafsir Fakhrurroziy1 ialah istri yang disucikan semua anggota tubuhnya dari haid, istihadhoh, suci dari semua kotoran, dan juga suci dari hal-hal yang menghinakan.
Di kitab-kitab yang lain2 juga disebutkan yang dimaksud dari firman Allah diatas ialah istri yang berupa bidadari dan lain sebagainya didalam surga. Dan di dalam kitab tersebut juga dijelaskan bahwa lafadz أزواج مطهرة ialah seorang wanita yang di khususkan bagi para kaum laki-laki kelak didalam surga, dan tidak untuk lainnya.
Disebutkan dalam sebuah kitab tafsir3 , disana ada hadist yang dikeluarkan oleh Waki’, Abdurrozaq, Abdun Bin Humaid dan Ibnu Jarir dari Mujahid bahwa yang dimaksud dari firman Allah أزواج مطهرة ialah suci dari haid, kotoran, kencing, ingus, dahak, air ludah, mani dan melahirkan(anak). Dan hadist yang dikeluarkan oleh Abdurrozzaq, Abdun Bin Humaid dan Ibnu Jarir dari Sayyidina Qatadah bahwa yang dimaksud dari firman Allah di atas ialah, Allah mensucikannya dari kencing, kotoran (tahi) kotoran-kotoran yang lain, dan Allah juga mensucikannya dari semua dosa baik dosa besar dan dosa kecil. Dan dikitab tersebut masih banyak hadist-hadist yang menjelaskan firman Allah di atas diantaranya juga Hadist yang di keluarkan oleh Imam Bayhaqiy dari Abi Abdillah Bin Aufa, bahwa Rosulullah bersabda: “orang laki-laki ahli surga akan mengawini 4000 (empat ribu) wanita yang terdiri dari perawan, 8000 (delapan ribu) wanita yang terdiri dari janda, dan 100 (seratus) wanita yang terdiri dari para bidadari, dan mereka berkumpul selama tujuh hari, dan mereka berbicara dengan kata-kata yang bagus (manis) sebuah kata-kata yang tidak pernah di dengar oleh semua makhluk yang lain”. Al Hadist.
Kesimpulan dari keterangan diatas adalah bagi manusia yang diberi kenikmatan masuk surga oleh Allah swt ia akan memperoleh kenikmatan yang tiada tara, kenikmatan yang belum ia rasakan sebelumnya, dan ia akan kekal selamanya di surga yang penuh kenikmatan, dan sejuta keindahan dengan dikelilingi sungai-sungai yang mengagumkan, dan disurga ia tidak akan sendiri ia akan ditemani seorang istri dari bidadari yang yang telah Allah sucikan sucikan dari hal-hal yang menyakitkan, inilah bentuk kenikmatan yang sesungguhnya.

Februari 21, 2009

Tantangan Allah Dalam Al Qur’an

Filed under: Uncategorized — mchsholehuddin @ 6:39 am

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوْا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُوْنِ اللهِ إِ نْ كُنْتُمْ صاَدِقِيْنَ: (البقرة 23 )
…Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.QS Al Baqarah 23.

Ayat ini merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan tentang kebenaran Al Quran, itu tidak dapat ditiru walaupun dengan mengerahkan semua ahli sastera dan bahasa Karena ia merupakan mukjizat nabi Muhammad s.a.w.

Dalam kitab tafsir At Thobhariy( 1) disitu dijelaskan bahwa Allah berfirman. “Hai orang musyrik dari orang arab dan orang kafir dari ahli kitab apabila kamu masih ragu tentang Al Qur’an yang telah Aku turunkan kepada hambaku yakni Muhammad saw dari nur hujjah dan beberapa ayat Al qur’an sesungguhnya ia (Al Qur’an) dari sisiku, dan sesungguhnya aku adalah dzat yang menurunkanNya kepadaNya (Muhammad) dan kamu tidak iman dan tidak membenarkanNya terhadap apa yang ia katakan. Maka datangkanlah sebuah hujjah untuk menolak hujjahnya karena sesungguhnya kamu mengetahui bahwa hujjahnya seorang Nabi adalah untuk membenarkan dakwah kenabian, untuk mendatangkan subuah burhan (hujjah) yang melemahkan semua makhluk untuk mendatangkan hujjah yang semisal hujjahnya”.
Mengambil kesimpulan dari firman Allah diatas bahwa dengan tegas Allah menantang setiap orang yang tidak membenarkan bahwa Al Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah kepda hambaNya yaitu Nabi Muhammad saw, untuk membuat satu ayat yang semisal Al Qur’an.
Adapun yang dinamakan surat, disebutkan dalam kitab tafsir Al Baghowiy( 2), ialah sepenggal dari Al Qur’an yang mempunyai awalan dan akhiran dan paling sedikitnya ialah tiga ayat.
Disebutkan dalam Tafsir Fakhrurroziy(3 ) Ketika kenabian Nabi Muhammad telah nampak maka banyaklah dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Al Qur’an adalah mukjizat bagi Nabi Muhammad. Dan perlu diketahui bahwasannya bahasa Al qur’an terdiri dari tiga bagian:
1. Bahasa Al Qur’an sama denagn bahasa-bahasa orang yang fasih(mahir) dalam berbahasa arab.
2. Bahasa Al Qur’an melebihi bahasa-bahasa orang yang fasih namun, tidak sampai keluar dari kebiasaan(dianggap biasa-biasa saja).
3. Bahasa Al Qur’an melebihi bahasa-bahasa orang yang fasih dalam berbahasa, hingga bahasa Al Qur’an bisa sampai keluar dari kebiasaan(luar biasa).
Tetapi bagian yang pertama dan kedua tidak berlaku, adapun bagian yang ketiga masih tetap berlaku karena memang bahasa Al qur’an adalah bahasa yang tinggi, tak satu pun dari manusia yang sanggup membuat satu surat pun yang sama dengan Al Qur’an. Jangankan manusia, jin pun tidak bisa membuat sebuah kata yang sama dengan Al Qur’an.
Allah berfirman dalam surat Al Israa’ yang artinya :

Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.
Kesimpulan dari ayat diatas ialah, semua makhluk yang ada dibumi ini tidak akan mampu membuat satu surat yang serupa dengan Al Qur’an, baik itu jin apalagi manusia.

REFERENSI

(1 ) Abi Ja’far Bin Muhammad Bin Jarir At Thobhariy,Tafsir At Thobhariy. Juz 1/189. Daruihyaitturots Al Arobiy. (Bairut Libanon:Th 2002).
( 2) Abi Muhammad Al Husain Bin Mas’ud Al Baghowiy. Tafsir Atthobariy Hal 21. Darubni Hazm.( Bairut Libanon: Th 2001)
(3 ) Imam Fakhrurroziy. Tafsir Fakhrurrziy. Juz 2/347. Daruihyaitturots Al Arobhiy. (Bairut Libanon: Th.2001).

Februari 8, 2009

IKHLASKAN HATIMU

Filed under: Uncategorized — mchsholehuddin @ 6:46 am

IKHLASKAN HATIMU
Keikhlasan hati seseorang sangat diperlukan sekali dalam setiap melakukan ibadah baik yang berbentuk perbuatan maupun perkataan, Nabi Muhammad bersabda dalam sebuah hadistnya “akhlis dinnaka yakfiika al-qulilu minal amali “ .murnikanlah agamamu pasti kamu akan merasa cukup meskipun beramal sedikit. Imam Abdurrauf al- manawi menyarahi hadis tersebut yang di maksud dengan ikhlas yaitu memurnikan iman kita dari hawanafsu, atau ketaatan kita degan menjauhi segala perbuatan yang membuat hati kita merasa iri pada orang lain. Dengan cara beribadah kepada Allah semata –mata demi mengikuti perintahnya bukan karena ingin surga bukan karena takut neraka juga bukan karena ingin selamat dari misibah didunia.kenapa kita disuruh ikhlas dalam setiap melakukan pekerjaan ? dikarnakan ruh manusia itu apabila brsih dari hawanafsu maka anggota badan kita akan berbicara / melakukan ibadah tanpa adanya pertentangan antara anggota badan nafsu hati dan ruh maka terlihatlah pekerjaan itu semata-mata dilakukan karena Allah SWT. Didalam kitap tauratpun disebutkan “ma uriidu bihi wajhi faqoliluhu kasirun wama uriidu bihi goiru wajhi fakasiruhu qoliilun” artinya segala sesuatu yang dilakukan karenaku ( Allah ) biarpun sedikit aku anggap banyak dan begitu juga setiap pekerjaan yang dilakukan demi selain aku biarpun banyak aku anggap sedikit.
Artinya barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” (QS al-kahfi 110 ). Tidaklah mudah bagi seorang hamba mengatakan ihklas dalam beramal karena ikhlas tidak dapat diketahui dengan perkataan saja dikarnakan ikhlas merupakan pekerjaan hati yang mana sulit ditebak taksatupun orang yang tahu apa isi hati dan maksud hati seseorang hanyalah allahlah yang mengetahuinya

4 tanda orang yang tidak ikhlas
1 .malas apabila sendirian
2 .bersemangat apabila bersama orang banyak
3. bertambah semangat apabila dipuji dan
4 . apabila dihina dia mengurangi pekerjaanya ( klembre ).

Intinya orang yang riya` itu adalah orang yang selalu ingin mendapatkan pujian dari orang lain bagaimanapun caranya dan dia benci terhadap hinaan orang lain. Untuk mencapai predikat orang yang ikhlas kita harus melakukan minimal tiga hal antara lain
1. kita harus mengetahui bahwa segala pekerjaan yang kita kerjakan itu semua datang dari Allah juga atas kehendak allah kita tidak mampu melakukan suatu pekerjaan tanpa bantuan-nya walaupun pekerjaan sekecil apapun. Kalau kita sudah sadar atas segala sesuatu yang terjadi itu atas kehendak allah maka kita pasti akan bersyukur kepada-nya atas segala sesuatu yang dilimpahkan pada kita dengan begitu akan hilang sikap sombong didalam diri kita.
2. Dalam setiap melakukan pekerjaan kita harus mengharapkan ridho dari Allah SWT dengan cara kita lihat, kita pikirkan pekerjaan itu apa bila didalamnya terdapat ridho dari allah maka kita lakukan demi mendapatkan ridhonya begitu juga sebaliknya, agar kita selamat dari melakukan pekerjaan yang terbawa hawa nafsu karena hawa nafsu itulah manusia sering menjadi lalai terhadap apa yang diperintahkan kepadanya.
3. mengharapkan pahala dari pekerjaan itu hanya kepada allah artinya melakukan pekerjaan secara ikhlas hanya untuk allah dan tidak perduli apapun yang dikatakan manusia kepadanya baik dipuji maupun dihina.

Seorang yang melakukan pekerjaan yang jngin selamat dari riya` didalam pekerjaan tersebut selayaknya mengambil / meniru gaya seorang pengembala kambing. Bagaimana caranya ? seorang pengembala kambing apabila melakukan ibadah semisal melakukan shalat dihadapan kambingnya dia sama sekali tidak menginginkan pujian dari kambingnya. Begitulah selayaknya manusia melakukan pekerjaan seharusnya tidak memperdulikan apa pandangan / kata orang lain terhadapnya, baik ada orang maupun tidak ada dia tetap melakukan pekerjaan dengan semangat.

Para ahli hikmah mengatakan pekerjaan seseorang itu apabila ingin selamat hendaknya didasari dengan pondasi yang mapan yaitu ilmu, jadi sebelum melakukan sesuatu seharusnya memiliki ilmunya terlebih dahulu dikarnakan setiap pekerjaan itu baik yang buruk maupun yang baik itu semua ada ilmunya. Pekerjaan yang tanpa didasari oleh ilmu kebanyakan / mayoritas gagal / tidak mendapatkan kesuksesan ( akan mendapatkan kehancuran ). Begitu juga sebaliknya kalau kita tahu ilmunya niscaya kita akan mendapatkan kesuksesan.

Laman Berikutnya »

Blog di WordPress.com.